Monday, May 16, 2016

Dunia Pejuang Penyendiri

Langkah demi langkah perjalanan panjang diarungi tanpa henti. Beribu-ribu miles jalanan tak pernah kunjung ada akhir. Beribu-ribu miles jalanan dilewati kendaraan-kendaraan yang memiliki tujuan akhir di ujung sana tapi entah mengapa kaki ini selalu ingin melihat kendaraan itu lagi di ujung sana juga. Bermodalkan tekad dan prinsip serta beberapa logistik, organ-organ ini terus dan terus mencoba walaupun goresan maupun luka membanjiri tubuh ini. Mencoba untuk menyapa namun apadaya semua hampa tanpa ada satupun yang peduli. Entah harus kemana, mau bagaimana, serta tak mengerti cara untuk bisa mengerti apa itu bersama maupun kebersamaan. Kadang pedang ini telah lelah menebas semua lawan dan sedih ketika tak ada yang memberi penghargaan bagi kemenangan. Lambat laun hujan pun semakin deras setiap bulannya, bulan pun mulai redup tak akan pernah bisa menerangi malam-malam yang sepi ini. Bintang pun berjatuhan karena tali yang mengikatnya di langit telah putus. Namun pejuang tetaplah pejuang, entah berapa banyak tantangan menghadang selalu dihadapi dengan berbagai kesenangan yang diciptakan sendiri dari dalam hati. Khayalan demi khayalan telah tertulis dan diarsip dalam pikiran namun sedih ketika tak ada tempat untuk berbagi kesenagan tersebut. 
Inilah dunia yang tak pernah mau untuk dihuni oleh siapapun kecuali dia. Ya dia seorang Pejuang Penyendiri.

Sunday, May 8, 2016

Terjangan Kegundahan Yang Tiada Henti

          Semuanya yang ada disekitar kita adalah kepalsuan. Rambut palsu, hidung palsu, muka palsu, senyum palsu, bahkan hatipun terkadang palsu. Itulah kenyataan yang harus diterima pada generasi abad 21. Semuanya serba palsu yang membuat kepalsuan meraja lela di semua penjuru negeri. Trus apa bedanya palsu sama asli ? Gak ada bedanya kok, palsu pun baik ketika penggunanya merasa nyaman saat dikenakan karena satu hal KENYAMANAN takkan pernah bisa dipalsukan. Ya terkadang aku bingung dengan pola pikirku yang tak waras ini. Umur semakin panjang dan kenapa setiap mau beranjak dewasa selalu dibebankan dengan permasalahan, apa ini yang namanya tradisi dari jaman manusia purba sampe sekarang ? Apa akunya yang buat tradisi sendiri untuk diri aku pribadi ? Entahlah karena aku tidak nyaman dengan semua ini. Banyak hal yang seharusnya aku lakukan selama setahun seperti bermain gitar, menabung, belajar, ibadah, dan main game tapi kok jadi sia-sia disaat semua pengorbanan hanya dianggap sebagai kejahatan. Manusia itu kan punya akal dan perasaan yang tak tahu dimana letaknya dan katanya pula itu bisa dibuat untuk mikir dan merasakan, tapi kok kadang semuanya gak pernah kepake karena semuanya dipake kalo lagi ngelike foto di Instagram ataupun Line. Jadi era sekarang emang berubah menjadi serba teknologi karena letak perasaan dan akal sekarang hanya ada di dalam android saja dan gak ada lagi manusia yang menggunakan 2 hal tersebut pada dirinya sendiri. Terus kalo gak salah kata Aristoteles itu kita harus melihat seseorang sebagai manusia bukan sebagai individu tapi semakin lama kok aku ngeliat orang itu sebagai individu yaa. Individu yang hanya bisa dekat saat ada kebutuhan saja tapi lari saat ada kegundahan, kepentingan individu sudah meraja lela bahkan kepentingan manusia pun terkadang terlupakan, apalagi kepentingan bersama ? Ya ada sih bersama untuk individu.
          Sekarang kita tahu bahwa segala sesuatu tak hanya kita dapatkan dari mata yang paling banyak memberikan kenikmatan duniawi namun telinga pun banyak memberikan kontribusi untuk mendukung semua organ yang fana seperti perasaan (katanya sih ada). Memang apa yang kita dengar belum tentu benar tapi setidaknya itu akan memberikan bukti menuju kebenaran. Sensitifitas adalah berkah untuk semua “individu” tapi tak enak pula apabila diberikan berlebihan. Dan kita hanya bisa bilang “Oh ternyataa ginii selama ini...”, pahit bukan ? Ya namun dinikmati pun tak bakal pernah enak, karena pahit sampai kapanpun tetap dalam kosa kata yang negatif sampai kapanpun. Begitulah terjangan-terjangan yang menghadang namun semoga aku sebagai manusia memiliki darah Rhizopora yang diterjang ombak tak akan pernah tumbang. Amin

Wednesday, April 13, 2016

Pertemuan

       Waktu berlalu begitu cepatnya, gak kerasa masa-masa SMP dulu berlalu begitu cepatnya. Sekarang  aku dan Tania udah beda sekolah tapi gak masalah asalkan tetep saling percaya mungkin bisa tetep ngerasa kayak satu sekolah lagi. Permasalahannya sekolahku dan sekolah Tania itu sama-sama asrama jadi kita gak bisa berhubungan lewat telepon karena di sekolah kami gak boleh bawa Hp. Sedih sih tapi memang mau gimana lagi demi mencapai masa depan yang gemilang. Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMA. Ya sekolahku termasuk sekolah unggulan di daerah sini jadi bangga banget bisa pake seragam sekolahku apalagi kalo jalan ke mall, terlihat elegan bangetlah rasanya. Di asrama emang serasa kayak neraka bangetlah, tidur gak boleh malem dan dibangunin subuh buat sholat, rasanya pengen kabur tapi penjagaannya super ketat disini.
“Eh do yok cepetan dikit kalo pake baju jangan lama-lama, mukamu sama aja gak bakal bisa ganteng haha.” salah satu temenku teriak namanya Adi, emang tuh orang suka jahil sama aku tapi kita emang suka becandaan selama MOS kemaren.
“Iya sabaran dikitlah walaupun aku gak ganteng yang penting rapi bos.”perlawananku ke Adi. Ya kita tiap pagi begini pasti jam 6 pagi udah harus ada dilapangan buat apel sambil ngecek absen siapa tau ada yang kabur-kabur gitu kan. Inilah SMA ku, kedisiplinannya hampir mirip militer karena kita dulu pas MOS dilatih sama kakak-kakak TNI. “ Buset deh telat nih kayaknya aku di, kamu duluan ajalah daripada ntar kena hukuman juga.” Kataku sambil nyari sepatu di lemari.
“Yo siap, cepetan ya.” Adi pun bergegas menuju ke lapangan dengan tubuh gemuknya.
Akhirnya aku pun berlari menuju lapangan karena posisi lapangan dengan asramaku agak jauh dan memutar masjid dahulu. Temen-temen sekolahku sudah kumpul semua di lapangan, mereka terlihat senang untuk memulai hari pertama masuk sekolah. Barisan cowok dan cewek dipisahkan oleh jaring net voli jadi kita cuma bisa ngeliat cewek dari kejauhan. Banyak banget cewek-cewek yang cantik ternyata masuk sekolah ini. Gak nyeselah dulu belajar keras biar bisa masuk sini. Tapi inget do kamu udah punya cewek. Akhirnya kami pun berbaris untuk mendengar kata sambutan dari kepala asrama kami dan memulai absen satu persatu. Suasana pagi bersama temen-temen emang asik, kita bercanda tawa ditemani dengan suara pepohonan yang ditiup angin pelan dan kicauan burung yang menjadi backsound dari cerita kami semua. Setelah selesai mendengar pengarahan dari kepala asrama, kami semua dibubarkan karena waktu sudah menunjukkan pukul 6.50 WIB.
“Eh di yok masuk narok tas dulu ke kelas terus kita upacara, kamu dapet kelas apaan ?” Sambil ngeliat kertas pembagian kelas.
“Masuk kelas X-C nih do, kamu masuk kelas apa ?” ujar adi sambil noleh-noleh liatin cewek-cewek.
“Matamu weyy di dijaga dong haha, masuk kelas X-F. Yaudah see you next time.” Aku sambil bergegas mencari kelas.
“Yoo siap.” Adi pun pergi menuju ke kelasnya.
Tak terasa upacara hari ini terasa lama banget dibandingkan dengan SMP dulu. Kepala sekolahnya nih betah banget ceramah, atau jangan-jangan emang dia penceramah dulunya ya. Dilapangan upacara kami berbaris untuk mendengarkan kata sambutan dari guru-guru yang ada. Begitulah tahun ajaran baru sama saja dari SMP ke SMA. Apa karena guru-guru tak punya akal kreatif lagi ya untuk mengubah metode seperti upacara ? Walalupun upacara memang adalah budaya kita tapi membutuhkan inovasi-inovasi lainnya agar lebih menarik dan tujuan pun tersampaikan dengan baik pula menurutku sih begitu.
Tak terasa waktupun berputar begitu saja, bel tanda berakhirnya kelas pun telah berkumandang. Perasaan penat menunggu pun akhirnya terlepaskan semua. Aku beranjak dari kelasku menuju ke asrama lagi karena memang harus segera buru-buru mandi karena antrian pun bakal panjang seperti rel kereta api yang gak tersusun rapi. Aku pun segera berlari untuk mandi kemudian bersiap untuk menuju masjid karena harus sholat magrib bersama-sama. Masjid posisinya memang berada di depan asrama putra dan putri jadi kita bisa langsung berlari menuju ke sana. Di belakang masjid ada dapur dan ruang makan ya biasanya disana tempat pertemuan temen-temen yang punya pacar sih.
Jam telah menunjukkan pukul 19.00 WIB dan kita pun segera menuju ke ruang kelas untuk segera melaksankan kegiatan belajar malam. Memang waktu belajar malem menuju ke kelas itu bisa ngeliat cewek-cewek pake baju tidur nah disitu sih mulai para lelaki mencari mangsa-mangsanya. Apalagi si Adit tuh matanya mulai seliweran.
“Eh dit matamu dijaga dong masa kayak serigara mencari mangsa aja.” Aku sambil tertawa melihat Adi.
“Ini do yang namanya surga duniawi. Yoklah jangan sok alim kita nikmatin pemandangan ini.” Sambil ngerangkul si Rando.
Memang di sekitar lapangan banyak banget temen-temen berlarian menuju kelas ada juga sih yang sambil ngobrol sama temen-temen kelompoknya sih. Nah disaat aku pengen masuk kelas tiba-tiba aku ngeliat seorang berlian lewat, senyumnya yang mempesona dan tatapan mata cerianya seolah membuat hati pun  tenang, dengan ramahnya dia menyapa semua orang yang ada disekitarnya, awalnya aku sih agak pangling melihat sosok seperti itu pas dia tiba-tiba semakin dekat rasanya aku pun meleleh. Mungkin seperti lilin yang kena api. Gak menyangka aja sih ternyata sekolah ini begitu luas ya, kirain semua cewek-ceweknya jual mahal semua tapi ternyata ada juga yang seperti ini. Aku pun langsung nanya kan dengan temen satu kelasku, “Eh guys kalian kenal gak sih sama cewek yang tadi lewat depan kelas kita ?” dengan rasa penasaran. “Ohh itu namanya Naya anak X-A katanya sih dari luar kota tapi lumayan sih.” Ujar salah satu teman cowokku. “Kenapa kamu do ? Naksir ya ?” Kata seorang temenku cowok yang gendut di kelas. “Gaklah kan aku udah punya cewek, Cuma penasaran aja sih sama tuh orang siapa kan. Ramah banget masalahnya.” Kataku sambil malu-malu.
Setelah pulang dari belajar malem di asrama aku teringat terus sama tuh cewek, pengen ngajak kenalan tapi gimana gak PD apalagi posisi aku ada cewek nih. Mungkin nanti bisa tanya temen-temen dulu lah soal Tania ini. Malam ini memang sangat ramai sekali di asrama karena cowok-cowok semua pada ngobrolin soal cewek-cewek di sekolah. Ya situasi emang enak banget untuk curhat-curhat. Tapi aku penasaran kabar Tania disekolahnya, gak bisa ngehubungin juga aku karena memang gak ada hp. Semoga dia baik-baik aja disana dan mendapatkan banyak temen yang baik. Sejak Tania ospek sampai kami masuk sekolah memang belum pernah berhubungan sama sekali karena sekolah Tania lebih ketat dibandingkan dengan sekolahku. Kami hanya bisa saling percaya aja sih satu sama lain.
Kumandang subuh pun memanggil seperi biasa. Aktivitas rutin seperti biasa kujalani untuk beberpa hari ini. Gak terasa udah beranjak 2 minggu masuk sekolah dan kabar Tania baik-baik saja tapi kita sekarang sudah mulai mendekati masa kritis karena kita sering marahan akhir-akhir ini. Sedih sih tapi mau gimana lagi aku pun gak bisa deket sama dia, rasanya pengen putus tapi kami sudah pacaran 1 tahun 7 bulan rasanya waktu tak terasa. Akhir-akhir ini pun aku sering uring-uringan sendiri. Ketika aku ke kantin ternyata aku melihat sosok yang beberapa waktu lalu aku temuin yaitu Naya. Seperti biasa dia memang selalu terlihat ramah ke orang-orang, lalu aku pun mulai memberanikan diri untuk berkenalan tapi nyari nomor hpnya karena sekarang udah berani nih bawa hp ke sekolah (Sebenernya nurut kata senior sih). Temenku ternyata ada yang sekamar dengan dia, nah ini namanya momen.
“Eh Din kamu tau gak yang namanya Naya anak kelas X-A ?” dengan penasaran aku nanyain di Dinda.
“Kenal dong kan temen sekamarku dianya, kenapa emang do ?” Dinda penasaran.
“Minta dong nomornya pengen kenalan nih siapa tau kan bisa jadi temen deket hehe.” Aku becandain.
“Wah mau selingkuh nih kamu do parahh.”dibales Dinda.
“Gak lah kan cuma pengen bisa jadi temen, gak lebih dong. Yayaya tolong dong din.”aku pun memelas kepada Dinda.
“Nih nomornya jangan macem-macem tapi yak.”Dinda sambil mencari nomor telepeon di hpnya.
“Makasih ya Dindaku.”sambil senyum-senyum aku godain Dinda.
“Iyeeee.”Dinda menjawab.
Aku pun seneng banget bisa dapet nomor hpnya si Naya karena selama ini aku cuma bisa mengagumi dia dari jauh dan memang gak berani untuk kenalan langsung, itu sih kelemahanku pemalu kalo soal cewek. Akhirnya aku iseng kan nyoba ngehubungin si Naya.
Rando : Permisi ini benar nomornya Naya ?
Naya    : Iya benar. Ini siapa ya ?
Rando : Ini Rando anak kelas X-F.
Naya    : Wah iya kenapa emang do ?
Rando : Mau nanya aja soal dari Pak Rus fisika karena kan kita beda guru. Untuk perbandingan belajar nih.
Naya    : Kalo Pak Rus itu soalnya gampang-gampang susah do yang penting kamu bisa belajar rumus aja ya.
Disinilah awal mulanya kehidupanku berubah dan aku punya motvasi lebih untuk bisa mengenal sosok wanita yang aku kagumi. Mungkin saat ini aku belum bisa untuk menggapai Naya apalagi untuk bisa dijadikan pacar. Aku hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan aku bakal menjadikan dia sebagai motivasiku melangkah maju kedepan.